Masa Pandemi, Majelis Sahabat Yatim Rutin Beri Santunan

Dampak ekonomi Pandemi Covid-19 terhadap perekonomian masyarakat Indonesia, sangat terasa. Dampak ekonomi tersebut, tak hanya merambah para pengusaha dan kelas ekonomi menengah tapi yang lebih terasa, dampak ekonomi akibat pandemi, kelas masyarakat bawah.

Melihat kenyataan tersebut, Majelis Sahabat Yatim yang dikomandoi Edy A Effendi, beralamat di Panunggangan Utara, Pinang, Kota Tangerang, melakukan kegiatan santunan secara rutin setiap hari Jumat bagi anak-anak yatim di sekitar Panunggangan Utara.

“Sejak Pandemi Covid-19 masuk di Indonesia kisaran Maret 2020, saya mengambil langkah untuk membantu anak-anak yatim di sekitar tempat tinggal saya. Ada kisaran 30 sampai 40 anak yatim,” ujar Edy A Effendi, pengelola Majelis Sahabat Yatim.

Langkah awal memberi santunan ke anak-anak yatim, lanjut Effendi, dengan melakukan survei ke lapangan, mendatangi rumah warga kampung Panunggangan Utara, yang punya anak yatim.

“Selama survei, setiap hari Jumat, saya memberi santunan anak-anak yatim. Uang santunan dan beras. Saya bawa sendiri pakai motor. Datang dari rumah ke rumah anak-anak yatim sambil ngobrol dengan ibunya terkait kebutuhan sekolah,” ungkap Effendi, yang dikenal sebagai penulis esai budaya ini.

Selama beberapa bulan, Effendi keliling usai Jumatan ke rumah anak-anak yatim. “Langkah keliling ini dari rumah ke rumah anak yatim, tidak dilanjutkan setelah bangunan untuk anak-anak yatim, selesai. Jadi setiap Jumat sore, jam empat, anak-anak yatim datang ke rumah untuk santunan,” tutur Effendi.

Setelah berjalan hampir dua tahun, Effendi membangun saung tempat belajar anak-anak yatim. Setiap hari Minggu sore, anak-anak yatim belajar Bahasa Inggris dan tajwid juga doa-doa sehari-hari.

“Kenapa Bahasa Inggris yang diajarkan? Ya karena biar anak-anak yatim menghadapi arus global dengan rasa percaya diri. Mereka kan anak-anak kecil, sebagian besar masih sekolah di SD, perlu ditanamkan kepercayaan sejak dini untuk bisa Bahasa Inggris. Nah Bahasa Arab diajarkan sekalian belajar tajwid,” ucap sosok lelaki yang pernah cukup lama menggeluti dunia wartawan ini.

Ketika wartawan Satelit News bertanya berapa uang keluar setiap kali santunan dan dari mana sumber uang tersebut?

“Setiap Jumat habis kisaran lima juta sampai tujuh juta. Dari mana uangnya? Dari Allah. Saya bekerja untuk Allah. Hehe. Alhamdulillah dari berbagai sumber dan dari hasil ikhtiar saya. Follower saya di medsos, banyak sekali yang berpartisipasi untuk acara santunan di rumah. Dari pedagang kecil, pengusaha, pekerja sampai jenderal TNI dan Polri, ikut memberi sedekah setiap Jumat,” tutur Effendi yang sekarang lebih banyak menekuni dunia tasawuf dan mengkaji ulumul Quran.

Perubahan orientasi Effendi dari dunia sastra ke tasawuf dan mengkaji Alquran tak lepas dari studi dia di Sekolah Tinggi Filsafat Islam (Sadra) dengan mengambil studi Filsafat Tasawuf.

“Pada akhirnya hidup itu terkait bagaimana memilah dan memilih. Saya kemudian memilih jalan sunyi, jalan para salik. Saya memilih jalan sepi di tengah keramaian kehidupan di Kota Tangerang. Segala atribut sebagai penulis dan wartawan, itu hanya label-label duniawi semata. Tak abadi,” kata Effendi mengakhiri percakapan dengan wartawan Satelit News.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *