Esai

Kuliah Perjodohan: Kenyamanan

Oleh Moeflich H. Hart

Apa yang paling utama dan paling diharapkan oleh sebuah pasangan dengan pasangannya? KENYAMANAN!! Tak akan ada yang membantah ini. Kenyamanan itu penyebab atau sumber ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan.

Sepanjang sejarah, manusia di muka bumi rela mengeluarkan uang sangat banyak (sekarang: ratusan juta bahkan milyaran) untuk merasakan tenang, damai dan bahagia. Atau melakukan apa saja untuk mendapatkan ketiganya. Tapi dengan dana besar dan melakukan apa saja itu, belum tentu juga dan banyak orang tidak berhasil mendapatkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan atau kenyamanan itu.

Kenyamanan itu hubungannya dengan apa? Dengan hati. Apa yang membuat hati nyaman dan tenang dengan pasangan? Ini: Kecocokan, persambungan, pengertian, kedewasaan, kemistri, sekufu, sevisi, semisi dll. Hati yang nyaman dengan sumber-sumbernya itu, itulah yang akan mendatangkan kebahagiaan.

Apa arti semua itu? Mencari pasangan, jodoh, teman hidup, imam rumah tangga, suami, istri dll TIDAK DA HUBUNGANNYA dengan wajah, harta, kekayaan, keturunan, usia, status, pangkat, pekerjaan dan kedudukan dll karena semua itu tidak berhubungan dengan kenyamanan. Semua itu bukan sebab dan sumber kenyamanan tapi hanya penunjang atau pelengkap, bila kenyamanan sudah ada dulu. Itu semua bukan yang utama menyebabkan kenyamanan.

Disinilah, pemilihan jodoh dan hubungan suami istri banyak yang bermasalah bahkan jadi sumber masalah. Skala kecilnya, menjadi persoalan dan sumber pertengkaran, skala besarnya berujung perpisahan atau perceraian. Sebabnya, tidak dirasakannya kenyamanan dalam rumah tangga. Kenyamanan tidak ada karena salah menentukan kriteria, syarat dan ukuran perjodohan.

Ingin membangun rumah tangga yang damai, nyaman dan bahagia? Gunakanlah syarat-syarat yang mendatangkan kenyamanan itu, bukan yang mendatangkan masalah, keruwetan dan sumber konflik. Apa Itu? gengsi, kesenangan, pujian, kehormatan dan penghargaan. Semua itu hanya kamuflase bila tanpa kecocokan dan kemistri. Rumah tangga banyak yang penuh dengan kemunafikan. Suami istri banyak yang seperti damai dan bahagia dan diluar atau dipermukaan, padahal didalamnya rapuh, tak ada kecocokan, stres, tak nyaman, “beungeut nyanghareup ati mungkir.”

Wajah, harta, kekayaan, penampilan, keturunan, usia, status pernikahan, pangkat, pekerjaan dan kedudukan itu mendatangkan gengsi, kesenangan, pujian, kehormatan dan penghargaan, bukan kenyamanan. Bisa saja mendatangkan kenyamanan bila fungsinya sebagai pelengkap atau penunjang, bukan yang utama. Yang utamanya adalah kecocokan, persambungan, pengertian, kedewasaan, kemistri, sekufu, sevisi, semisi, sekarakter itu.

Sekali lagi, disinilah rumah tangga banyak masalah, problem dan menjadi ajang pertengkaran tiada henti karena tidak ada kecocokan, persambungan, pengertian, kedewasaan, kemistri, sekufu, sevisi, semisi, dan sekarakter, karena yang dilihat atau disyaratkannya adalah wajah, harta, kekayaan, penampilan, keturunan, usia, status, pangkat, pekerjaan dan kedudukan.

Jelaslah semuanya. Rumah tangga itu sekali dan selamanya. Apalagi ada anak-anak sebagai buah hati keluarga. Amat sayang dan rugi bila rumah tangga malah jadi sumber penderitaan dan jauh dari kebahagiaan. Janganlah salah dalam memilih dan menentukan kriteria pasangan. Pasanglah syarat2 kenyamanan bukan syarat ketidaknyamanan kecuali Anda siap menyesal diperjalanan atau di akhir. Rumah tangga banyak yang kacau, berantakan dan hancur disebabkan salah langkah dari awal.*** Wallahu a’lam.

Penulis adalah Dosen Sejarah Peradaban Islam, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Tulisan ini diambil dari laman Facebooknya, 4 Mei 2018.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close