Esai

Nabi: Jadikanlah Kucing Bagian Keluarga Kita

Usai Dzuhur sendirian di rumah. Duit habis. Bensin habis. Memasuki Asar, saya berdoa ke Allah. “Beri saya uang satu miliar ya Allah.” Pas jelang Maghrib ada “malaikat” telepon; bla,bla,blaa…. uang muka buku Rp…. juta dulu ya Mas. Saya gak jawab. Hati saya bergumam: Allaahhhhh
 
Orang penuh dosa. Di tubuh saya berlumuran dosa tapi Allah amat sayang. Mungkin salah satunya karena saya amat sayang ke para kucing. Kalau lagi di kampus, sisa makan; ikan atau tulang-tulang, saya bawa pulang, saya bungkus. Ingat kucing-kucing saya.
 
Pernah ke KFC, saya bilang ke pelayan, boleh minta sisa-sisa ayam yang ada. Pelayan mengamini. Saya bungkus, saya bawa pulang. Ini yang minta penulis, penulis esai dan puisi, pengajar sastra dan jurnalistik. Tapi apa artinya semua label itu bagi saya. Tak ada.
 
Saya heran, kok ada orang yang membenci kucing. Logika saya sederhana kok. Baginda Nabi sayang kucing, ya saya ikuti saja. Baru tataran itu saya bisa meniru laku Baginda Nabi. Salat pun baru level mengerjakan, belum mampu menegakkan salat. Ya pelan-pelan lah.
 
Apa yang mau disombongkan dalam hidup? Jabatan? Kekayaan? Kesaktian? Hallah #HalaMadrid. Saya gak heran kalau ada orang bisa berjalan di atas air. Bisa terbang. Itu bukan hal luar biasa. Luar biasa kalau bisa terbang, jalan di atas air tapi salat gak ditinggalkan. Ini baru wali.
 
Orang bisa baca kitab kuning kok bangga. Boleh bangga kalau tetap salat. Juara kitab kuning gak salat, kok dibangga-banggakan. Ini bicara tentang hakikat kehidupan. Bukan bicara kulit. Ini bicara isi. Ini tak terkait salat urusan pribadi. Ini terkait teks dan konteks.
 
Ada orang yang sok sakti di tempat kerja saya. Bisa hadirkan jin. Tiba-tiba ada tulisan di tangan. Kesaktiannya bikin orang takut. Maklum orang ini juga jabatannya tinggi. Yang sangat disayangkan, gak berani memperlihatkan kesaktiannya di depan saya. Pamer kok nanggung.
 
Tipikal orang seperti ini, mudah “dijatuhkan”. Kenapa? Karena kesaktiannya masih ingin diperlihatkan ke banyak orang untuk menakuti. Untuk dapat pujian bahwa dia sakti. Bajigur iki jenenge.
 
Waktu Pilgub DKI, dukun cebong mau hadirkan 777 jin, saya tantang kenapa gak sekalian 1000 jin. Biar genap. Ocehannya tak terbukti. Junjungannya keok. Keok langsung masuk hotel prodeo.Oh ya kata prodeo itu artinya gratis. Penjara sekarang itu seperti hotel gratis.
 
Kembali ke kucing. Kalau di kantin pasca, ada beberapa kucing. Kalau saya datang, selalu mengendus. Saya bilang ke mbak kantin, gorengkan lele Mbak. Si Mbak tahu kalau saya minta lele buat kucing. Kata Nabi, jadikanlah kucing seperti keluarga sendiri.
 
Ingat loh, kalau kita makan, para kucing mendekat, itu mengingatkan kepada kita bahwa yang kita makan itu, ada yang menjadi bagian  kucing. Jangan marah. Jangan rakus. Memberi makan kucing itu sedekah.
 
Ini lebih kepada pelajaran kehidupan. Bukan pelajaran keagamaan secara tekstual. Karena teks yang tidak terhubung dengan konteks, ia hanya berada dalam ruang hampa tanpa makna. Inilah anasir kehidupan. Anasir yang bisa kita petik untuk memaknai siapa diri kita.
 
Apa yang mau disombogkan? Jabatan presiden, menteri, kapolri, panglima, rektor? Jabatan ini jembatan. Mampu gak jadi jembatan? Jembatan itu tempat penyebarangan. Fungsinya menghubungkan. Melayani. Memberi rasa aman. Sudah gak poin-poin ini dikerjakan?
 
Mampu gak jembatan itu jadi Shirat al-Mustaqim, jadi jalan yang lurus? Jika jadi pejabat tapi tak mampu jadi jembatan, tak mampu menjaga martabat, bagaimana ia bisa jadi panduan tuk menuju Shirat al-Mustaqim. Ini ranting kehidupan. Ranting itu cabang. Gak bisa jadi cabang?
 
Kembali ke kucing. Menyayangi kucing. Tak sekadar menyayangi. Harus dari hati yang tulus. Levelnya harus mukhlas bukan mukhlis. Levelnya harus mashabir bukan sebatas shabir. Tanjakan mukhlas dan mashabir bisa dilalui melalui jembatan yang bernama kucing itu.
 
Jika Baginda Nabi bicara jadikanlah kucing menjadi bagian dari keluarga kita, saya gak akan mempersoalkan hadis ini terkait sanadnya, matannya, perawinya. Loh wong Nabi menyayangi Muezza kok. Saya yakin dan percaya. Ini tahapan shididiq bukan shaadiiq.
 
Inilah jembatan-jembatan menuju WhoAmI. Ini Teori Cermin (al-Mir’ah) yang disodorkan Imam Al Ghazali. Kata Imam Ghazali, hati manusia ibarat cermin, sedangkan petunjuk Tuhan bagaikan nur atau cahaya. Manusia yang hatinya bersih akan menemukan cahaya Allah.
 
Sebagai manusia penuh dosa. Saya selalu melihat, saya ini kotor. Baru level mengerjakan salat. Belum menegakkan salat. Maka saya tak mau mengusik keyakinan orang lain. Lebih baik meneguhkan keyakinan dalam diri. Inilah hikmah Teori Cermin (al-Mir’ah) Sang Hujjatul Islam.
 
Saya lebih memilih kultwit hasil perjalanan kehidupan dan kemudian disandarkan pada nilai ajaran agama yang pernah saya rengkuh ketika masih kecil. Kenangan kecil, kenangan berjalan di antara lorong gelap kehidupan, mencari seberkas cahaya.
 
Kicauan di @eae18
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close