Opini

Problem Identitas Keagamaan

Oleh Komaruddin Hidayat

Semua komunitas agama, menurut Yuval Noah Harari, dihadapkan tiga macam problem dan tantangan besar yang saling berkaitan. Yaitu: Technical problems, Policy problems, dan Identity problems (21 Lessons for the 21st Century, 2018). Sekalipun dia seorang Yahudi, ekslufisme komunitas agama Yahudi dia kritik dengan tajam. Termasuk kritiknya terhadap agama-agama lain yang kedengaran menyakitkan, namun argumentatif.

Menurutnya, saat ini seakan terjadi proses nasionalisasi kebertuhanan. God now serves the nation, tulisnya. Peran Tuhan dipersempit, diposisikan untuk membela kepentingan sebuah bangsa, tidak lagi membela dan melayani manusia seluruh jagad tanpa sekat ras, suku dan bangsa. Bahkan dipersempit lagi, Tuhan dimonopoli oleh mazhabnya atau kelompok politiknya.

Semasa abad tengah peran agama, ulama dan pendeta sangat sentral. Tuhan dan titahNya yang dikandung oleh agama menjadi rujukan masyarakat ketika mereka dilanda krisis. Ketika panen rusak mereka datang pada tokoh agama, memohon pertolongan untuk membujuk dan mengiba pada Tuhan agar tidak marah, menimpakan bencana. Begitu pun ketika sakit, masyarakat datang pada tokoh agama minta kesembuhan.

Pendeknya, di abad tengah Tuhan diyakini sebagai pengendali dan penjaga keseimbangan dan ketenteraman kosmik.Tetapi itu semua sudah berlalu. Satu-satu kekuatan dan kekuasaan agama dirongrong dan digantikan oleh sains dan teknologi. Bahkan peristiwa kematian pun tak lagi dikaitkan dengan keyakinan teologis, tetapi semata masalah medis. Ketika ada orang meninggal pertanyaan yang muncul adalah: Apa penyebab kematiannya? Ketika kebanyakan dikarenakan oleh serangan jantung, maka riset dan pengobatan di bidang penyakit jantung digalakkan. Termasuk penyakit-penyakit lain yang menyebabkan kematian. Lalu mereka menyimpulkan bahwa panjang dan pendek umur seseorang itu semata masalah kesehatan. Urusan dokter.

Demikianlah, tantangan yang dihadapi masyarakat moderen itu adalah bagaimana memajukan teknologi untuk menciptakan kehidupan yang lebih ringan dan nyaman dijalani. Sekaya apapun sumber daya alam sebuah bangsa, jika teknologinya ketinggalan, maka bangsa itu akan kalah dan tergilas oleh bangsa lain yang lebih maju teknologinya, sekalipun tidak beragama.

Tantangan kedua menyangkut policy problem. Yaitu bagaimana umat beragama menyikapi dan membuat kebijakan publik dan politik untuk mengatasi berbagai persolan kemanusiaan. Ini juga menyangkut manajemen politik sebuah bangsa dan negara di mana umat beragama berada. Krisis ekonomi yang terjadi di Irak, Lybia, Syria, Venezuela, Argentina dan Yunani semuanya bermula dari kegagalan manajemen politik. Gejala serupa juga mulai muncul di Turki. Jadi, sekalipun sebuah negara kaya sumber alamnya, jika manajemen politiknya lemah, amburadul, tidak efektif dan tidak visioner, tak ada jaminan rakyatnya makmur sejahtera.

Problem ketiga, dan ini tidak enak didengarnya, semua bangsa itu mesti memerlukan identitas yang jelas dan kuat sebagai sebuah bangsa. Dalam hal ini, identitas etnis dan agama sangat fenomenal. Disayangkan, penguatan identitas keagamaan itu memang berhasil membangun kohesi sosial bagi umat seiman, namun sekaligus menciptakan pemisahan dan bahkan konflik terhadap yang berbeda iman dan keyakinan.

Dengan eksplisit Harari mengatakan bahwa identitas agama bukannya memecahkan dua problem yang lain, yaitu technical and policy problems, telapi malah menciptakan problem baru. Ketika orang sudah berkelompok dan berhasil membangun kohesi serta solidaritas keagamaan, pertanyaan yang muncul adalah: problem bangsa dan kemanusiaan apa yang hendak diselesaikan? Alih-alih menyelesaikan, malahan mereka bertengkar dan terlibat perang atas nama Tuhan dan agama. Ini sebuah kritik dan renungan yang mesti dijawab oleh pejuang agama.

– Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Tulisan ini diambil dari laman FBnya, 13 Septermber 2018.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close