Dialog

Rethinking Posisi Agama

Oleh Komaruddin Hidayat

Pikiranku merasa diteror ketika membaca buku “Homo Deuz” karangan Yuval Noah Harari. Mengingatkan buku-buku lama yang pernah aku baca, terutama Satre dan Nietzche. Di abad tengah orang tdk pernah bicara tentang idieologi pertumbuhan ekonomi (growth) dan riset energi karena penduduk masih sedikit dan kebutuhan hidup bisa dicukupi oleh hasil panen.

Yang muncul kemudian penaklukkan untuk memperluas wilayah kekuasaan (imperium). Peran tokoh dan lembaga agama sangat sentral untuk menjaga keteraturan kosmik dan memberi makna hidup. Kekuasaan Tuhan diyakini sebagai pengendali kehidupan. Tapi memasuki abad 20 dan 21 muncul dua kata kunci yang menafasi seluruh pemimpin dan pemerintahan sebuah negara/masyarakat jika ingin maju dan tidak tergilas. Yaitu: growth dan penguasaan serta manipulasi sumber energi. Manusia hidup di medan energi yang belum tereksplorasi, misalnya energi matahari dan laut yang melimpah.

Masyarakat modern dipacu terus untuk meningkatkan pertumbuhan seiring dengan kenaikan populasi penduduk bumi.dan kebutuhan sekunder dan tersier yg tak akan pernah terpuaskan. Pendeknya, kesejahteraan ekonomi jadi tolok ukur keberhasilan sebuah pemerintahan. Lalu di mana peran agama? Dia sebagai pemberi makna hidup dan penenteram jiwa, tapi dinilai tak mampu memberikan solusi terhadap kebutuhan nyata masyarakat modern. Kebutuhan akan kesejahteraan, keadilan dan keamanan hanya bisa diwujudkan oleh ideologi humanisme dengan instrumen institusi sekuler, seperti penciptaan lapangan kerja, sistem politik yang demokratis, transparan, penegakan hukum, layanan medis, sistem keamanan dengan dukungan militer yang kuat.

Korea Utara dengan ancaman nuklirnya bisa menjinakkan Trumph sehingga mau jauh-jauh ke Singapore negosiasi dengan Un. Sementara negara-negara Arab tak berdaya menghadapi Israel. Para ilmuwan di Cylicon Valey telah mengubah perilaku ratusan juta penduduk bumi dalam moda berpikir, kerja dan ekonomi. Jika disurvey kebutuhan utama penduduk bumi itu lapangan kerja, energi, kesehatan, keamanan dan kesejahteraan yang semuanya empiris terukur.

Lalu, apa tawaran agama selain makna hidup dan keyakinan eskatologis? Ketika agama hendak dibawa ke ranah politik, apa yang hendak ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan hidup penduduk bumi dan sebuah bangsa? Ini hanya sekadar catatan dan pertanyaan ringan di atas pesawat Air Force One dari Makassar-Jakarta.

_ Tulisan ini diambil dari laman FB Prof Dr Komaruddin Hidayat, 24 Juni 2018, 18.50 WIB

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close