Dialog

Saya Membaca dan Mengamati; Hamparan Kemelekatan Diri

Saya Membaca dan Mengamati; Hamparan Kemelekatan Diri

Saya membaca dan mengamati, masih ada kawan-kawan yang menjaga imej, gengsi di ranah medsos. Meski saya doakan, meski saya beri ucapan-ucapan kebaikan, tak direspon sama sekali. Ia lebih menjaga perasaan teman-temannya yang pernah berseberangan dengan saya terkait Pilkada DKI 2017. Ia lebih menjaga perasaan keluarganya.

Saya membaca dan mengamati, masih ada orang dekat saya, sangat dekat, enggan komentar atau like di status-status saya. Sepertinya malu melihat sosok bajingan seperti saya. Tapi anehnya, ia gemar melike kawan-kawan satu pengajiannya dan intens melike istri sang mursyid. Mungkin ingin dilihat sosok alim di lingkaran pengajiannya tapi busuk di ranah yang amat private.

Komen dan tak komen, like dan unlike, memang hak private. Itulah kenapa saya sering diam membaca ujaran-ujaran orang lain. Tapi terkait bola, saya terjun bebas. Cara saya ini, bukan melakukan hal sama dengan teman-teman saya yang anti dengan status saya. Tapi saya membaca dan mengamati ada hal yang subtil, yang hilang dari kekerabatan di ruang medsos. Ruang kejujuran. Gelar guru besar, label intelektual dan kiai, masih saja melekat dengan perjalanan jasad; gengsi dan menjaga imej.

Tapi bagi saya, orang yang seperti itu, masih berada di level lahir meski ia menguar kajian-kajian makrifat atau nderes Ihya setiap hari. Meski ia dipuja-puja orang sejagat medsos karena kekayaannya. Inilah perlunya melepaskan kemelekatan dalam diri. Melepaskan ikatan primordial tentang WhoAmI.

Selamat pagi. Mari memulai hidup hari ini dari jejak Subuh.

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close