Opini

UKP-Pancasila; Sepanjang Ada yang Disemai, Akan Ada yang Tumbuh dan Bertunas

Oleh Damhuri Muhammad

Dalam riuh perbincangan tentang “gaji jumbo” Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di jagat maya akhir Mei 2018 lalu,  banyak suara sinis yang menuding bahwa pekerjaan BPIP tak lebih dari upacara-upacara formal-seremonial, seminar Pancasila, dan aktivitas yang memperlihatkan bahwa lembaga negara berusia muda itu tampak seperti event organizer (EO). Di titik ini, agaknya telah berlaku pepatah, “karena nila setitik, rusak susu sebelanga,” hingga apa yang telah dikerjakan BPIP akan tampak kerdil dan remeh belaka.

Catatan sederhana ini tiada bermaksud menyangkal tuduhan yang  terlanjur mengemuka, tak juga hendak membesar-besar jasa BPIP dalam usia yang belum setahun jagung. Meski begitu, dalam waktu kurang lebih 1 tahun (Juli 2017-Juni 2018), bukan berarti BPIP diam, apalagi berpangku tangan. Sejak mulai berkantor di gedung sayap timur Sekretariat Negara Juli 2017, dan sejak BPIP masih bernama Unit Kerja Presiden-Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP, atau biasa disingkat UKP-Pancasila), segenap tim pelaksana di bawah pimpinan Yudi Latif, sejatinya sudah tancap gas. “Ibarat mobil baru, kekuatan mesinnya perlu diuji dengan cara memacu mobil itu hingga mencapai kecepatan paling puncak,” kata Yudi Latif dalam rapat-rapat awal, di ruang kerja yang masih jauh dari memadai.

Namun, bekerja untuk Pancasila tentulah tidak seperti membangun jalan tol atau bandara baru yang dalam waktu tertentu bakal tampak wujudnya, lalu dipotret dari delapan penjuru mata angin. Upaya paling mula yang dilakukan oleh UKP-Pancasila adalah merumuskan konsep-konsep mendasar dari pembinaan ideologi Pancasila, sebagaimana dicantumkan dalam misi yang berbunyi; “membudayakan nilai-nilai Pancasila di kalangan penyelenggara negara dan warga negara Indonesia, agar menjadi pendirian hidup dan laku hidup membangsa dan menegara.”

Dari berbagai kajian intens yang dilakukan dengan sejumlah pihak, UKP-Pancasila merumuskan 5 persoalan utama sebagai dasar bagi pencapaian misi di atas. Pertama, pemahaman kembali terhadap Pancasila, yang berangkat dari kian pudarnya kesadaran dalam memahami nilai-nilai Pancasila, terutama sejak terjadinya kevakuman lembaga pembinaan ideologi pasca-reformasi 1998. Maka, UKP-Pancasila memandang perlunya revitalisasi dan reaktualisasi pemahaman Pancasila dengan melakukan penyegaran materi sosialisasi, pelurusan sejarah Pancasila, hingga penyegaran metode sosialisasi dan pedagogi Pancasila. Dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai pedoman untuk menggerakkan langkah mula-mula itu telah mendekati final pada awal Februari 2018, tepatnya sebelum turunnya Peraturan Presiden No.7 tahun 2018 yang mengatur tentang perubahan kelembagaan UKP-PIP menjadi BPIP (setingkat Kementerian). Modul pembelajaran Pancasila dari tingkat pendidikan dasar hingga perguruan tinggi telah disusun, naskah otentik risalah sidang BPUPKI telah memasuki fase pracetak, sementara metode sosialisasi memang masih dalam tahap pembahasan yang cukup alot.

Kedua, penguatan inklusi sosial. Langkah yang akan ditempuh adalah  menumbuhkan budaya kewargaan (civic culture) berbasis nilai-nilai Pancasila, serta penguatan dialog lintas agama, suku, ras dan golongan. Bagian ini perlu  digarisbahwahi bahwa bila di masa lalu lembaga pembinaan ideologi lebih berorientasi pada perwujudan moralitas individual, UKP-Pancasila berorientasi pada moralitas komunal atau budaya kewargaan. Ketiga, perwujudan keadilan sosial. Langkah yang akan ditempuh adalah mendorong terwujudnya keadilan sosial melalui perumusan desain ekonomi dan pembangunan berbasis nilai-nilai Pancasila, serta perajutan kemitraan ekonomi demi terbangunnya praktik ekonomi berkeadilan sosial. Dengan begitu, bila ada yang mengatakan bahwa UKP-Pancasila seolah-olah hanya mengurus persoalan radikalisme, poin tiga ini membuktian bahwa UKP-Pancasila tidaklah abai pada sila keadilan sosial.

Keempat, pelembagaan nilai-nilai Pancasila. Langkah konkretnya adalah 
memperkuat internalisasi nilai-nilai Pancasila ke dalam produk perundang- 
undangan, kebijakan publik serta lembaga kenegaraan dan kemasyarakatan. Kelima, keteladanan Pancasila, yang akan ditempuh dengan cara 
menumbuhkan, mempromosikan, dan mengapresiasi para pemuka masyarakat dan negara yang telah mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku serta pengabdian hidupnya.

Kelima persoalan utama itu dirumuskan untuk memancangkan fondasi bagi Garis-garis Besar Haluan Pembinaan Ideologi Pancasila (GBHPIP), sebagai amanat Peraturan Presiden No.54 Tahun 2017. GBHPIP adalah pedoman dan acuan dalam pelaksanaan pembinaan ideologi Pancasila terhadap seluruh penyelenggara negara dan masyarakat secara umum agar dapat dilaksanakan secara terencana,  sistematis, dan terpadu. Substansi yang terkandung dalam GBHPIP meliputi prinsip-prinsip dasar pembinaan ideologi Pancasila, urgensi pembinaan ideologi Pancasila, 
arah kebijakan, sasaran dan strategi pencapaian pembinaan 
Pancasila, serta wawasan dasar ideologi Pancasila.

Pada awal Februari 2018, sekali lagi sebelum Perpres pembentukan BPIP dikeluarkan, dokumen GBHPIP telah dijilid rapi, siap diserahkan kepada Dewan Pengarah untuk diserahkan kepada Presiden. Berbagai seminar, lokakarya, dan  Focus Group Discussion (FGD) yang telah menjadi sasaran untuk meremehkan BPIP itu memang harus dilakukan guna menghimpun gagasan dan pikiran dari para ahli selama pekerjaan penyusunan GBHPIP berlangsung. UKP-Pancasila tidak mungkin bekerja sendiri, mustahil menyusun GBHPIP dengan pikiran dari orang-orang di lingkaran dalam UKP-Pancasila sendiri. Seminar, lokakarya, dan FGD tersebut adalah bagian dari program yang dinamai “UKP-Mendengar.”

Lalu bagaimana dengan even semacam Festival Prestasi Indonesia 2017, yang menimbulkan persepsi BPIP sebagai EO? Kegiatan itu adalah bentuk konkret dari perwujudan keteladanan Pancasila yang dijelaskan pada poin kelima di atas. Dalam kegiatan yang bertepatan dengan perayaan HUT RI ke-72 tersebut, UKP-Pancasila memberikan apresiasi kepada 72 anak bangsa yang dipandang telah menunjukkan keteladanan dengan pencapaian prestasi di berbagai bidang. Bahwa dalam aroma perseteruan dan kontestasi ujaran kebencian yang hampir-hampir tak terbendung sejak beberapa tahun belakangan ini, ternyata masih banyak hal positif yang dapat dilakukan, dan mereka berhasil menunjukkan keteladanan untuk menginspirasi anak-anak bangsa di seluruh penjuru tanah air.

Digelar dalam bentuk even, karena UKP-Pancasila membutuhkan rupa-rupa content guna memenuh-sesaki big data dunia maya tentang berbagai hal positif menyangkut Pancasila. Sebab, informasi yang muncul bilamana netizen mengetik kata kunci “Pancasila” di mesin pencari google, melulu soal perdebatan tentang hari lahir Pancasila, perseteruan antara kelompok pro-Pancasila dan kelompok yang meragukan Pancasila sebagai dasar negara. Maka, aktivitas yang bisa membanjiri big data dengan content-content tentang pengamalan Pancasila dalam keseharian, perlu dimassifkan, disebarluaskan, digelorakan dalam banyak momentum.

Salah satu implikasi positif dari kegiatan yang bersemangat keteladanan Pancasila itu adalah lahirnya duta-duta Pancasila di berbagai daerah. 72 Ikon Prestasi Indonesia pilihan UKP-Pancasila hingga kini, tanpa diminta, telah menjadi juru bicara Pancasila di komunitas dan lingkungan masing-masing. Sementara itu, kegiatan-kegiatan yang mereka gelar telah memperkaya big data tentang Pancasila dengan jejak digital yang akan bertahan selamanya. Menggemanya Salam-Pancasila dari Aceh hingga Atambua, tingginya produktivitas media massa (baik cetak maupun daring) dan media sosial dalam penyiaran hasil-hasil kajian tentang Pancasila, sedikit-banyaknya tak bisa dilepaskan dari rupa-rupa kegiatan UKP-Pancasila dalam kerja pengarusutamaan nilai-nilai Pancasila.

Begitu pula dengan kegiatan semacam Lomba Kreasi Pancasila yang digelar dalam momentum Bulan Pancasila (1 Juni s/d 18 Agustus 2018). Dalam rentang waktu sejak awal April hingga akhir Mei 2018, akun-akun medsos BPIP diserbu oleh generasi Y dan Z yang begitu antusias mengikuti 6 kategori lomba kreasi yang meliputi Lomba Cipta Lagu Pancasila, Yel-yel Pancasila, Film Pendek Pancasila, Esai Pancasila, Foto Instagram, dan Meme Pancasila. Panitia berhasil menghimpun 875 esai, 247 film pendek, 778 foto, 243 Meme, 327 lagu dan 75 video Yel-yel. Karya-karya tersebut akan menjadi dokumentasi penting BPIP dengan hak cipta yang tetap melekat pada kreator. Karya-karya yang berasal dari tangan kreatif insan-insan milenial dari berbagai belahan Indonesia membuktikan bahwa Pancasila ternyata masih bernapas dalam iklim kekaryaan anak-anak muda. Sekali lagi, ini mungkin even yang seolah-olah menampakkan wajah BPIP sebagai event organizer, tapi untuk mengepung big data dunia maya dengan content-content kreatif berisi nilai-nilai Pancasila tentulah kegiatan tersebut tak bisa dipandang remeh.

Demikian sekelumit aktivitas tim BPIP dengan produk-produk yang tentu saja tak dapat diamati seperti mengamati jalan tol yang di-capture dari udara. Tapi percayalah, produk-produk dari pikiran yang telah dikerahkan sedemikian rupa dalam waktu yang amat singkat, dan berbagai karya kreatif yang telah berhamburan di youtube, instagram, facebook, dan twitter, adalah nyala Pancasila yang api mula-mulanya disulut oleh UKP-Pancasila. Sepanjang masih ada yang disemai, kelak tentu akan ada yang tumbuh dan bertunas…

Damhuri Muhammad, Sastrawan dan Mantan Tenaga Ahli BPIP

 

Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close